Sabtu, 16 Januari 2010

tugas akhir semester 3

KATA PENGATAR

Bismillahirrohmannirrohim
Assalamualaikum Wr. Wb
Segala puji hanya bagi allah Tuhan semesta alam.Salawat beserta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW, para keluarga, sahabat, serta pengikutnya yang tetap mengikuti sunnah-sunnah beliau sampai akhir zaman.
Makalah dengan judul “Tinjauan Psikologi dalam Pendidikan” ini disusun untuk memenuhi nilai dan tugas matakuliah Tekhnik Penulisan Karya Ilmiah.
Selama penyusunan makalah ini, saya mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Disamping itu, saya mengucapkan terima kasih kepada bapak Dr. Mulyawan S. Nugraha, selaku dosen matakuliah Tekhnik Penulisan Karya Ilmiah yang telah membimbing saya dalam menyelesaikan makalah ini, mudah-mudahan Allah swt selalu memberikan rahmat bagi beliau dan mendapatkan balasan yang tak terkira, Segala pertolongan dan kemudahan hanya dari Allah sehinnga kita hanya dapat memohon kepada-Nya.
Harapan saya semoga makalah ini bermanfaat, apabila terdapat kebenaran dalam makalah ini semoga dapat dijadikan pelajaran .Dan apabila terdapat kesalahan dalam makalah ini semoga dapat menjadikan saya untuk menjadi lebih baik.Segala tegur sapa akan saya terima dengan baik demi kebenaran dan mencari keridhoan Allah.
Akhirnya saya berharap semoga kita tetap mendapat taufik dan hidayah dari Allah SWT dan dijadikan sebagai hamba-Nya yang selalu bertakwa.
Wassalamualaikum Wr. Wb


Sukabumi, Januari 2010



Penulis

DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR ……………………………………. i
DAFTAR ISI ……………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah …………………………………… 3
B. Perumusan Masalah ……………………………............ 4
C. Tujuan Pembuatan Makalah ………………………………...4
D. Kegunaan Makalah …………………………………..…4
E. Sistematika Penulisan ……………………………………..5

BAB II TINJAUAN PSIKOLOGI TENTANG PENDIDIKAN
A. Konsep Pendidikan …………………………………………. 6
B. Tujuan dan Lingkungan Pendidikan …………………………7
C. Hubungan Psikologi dengan Ilmu-ilmu Lainnya……………10
D. Tinjauan Psikologi tentang Pendidikan……………………..12
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan ……………………………………14
3.2 Saran …………………………………....14

DAFTAR PUSTAKA









BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan pada dasarnya merupakan Interaksi antara pendidik dengan peserta didik, untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam lingkungan tertentu. Interaksi ini disebut interaksi pendidikan, yaitu saling pengaruh antara pendidik dengan peserta didik. Dengan adanya saling mempengaruhi ini, peran pendidik lebih besar, karena kedudukannya sebagai orang yang lebih dewasa, lebih berpengalaman, lebih banyak menguasai nilai-nilai, pengetahuan dan keterampilan. Peranan peserta didik lebih banyak sebagai penerima pengaruh, sebagai pengikut. Oleh karena itu disebut “ peserta didik” atau “terdidik” bukan pendidik ( orang yang mendidik diri sendiri). Secara leksial, kita tidak mengenal atau tidak biasa menggunakan kata “ berdidik” (mendidik diri sendiri), walaupun bagi peserta didik yang lebih dewasa kemungkinan itu bisa terjadi.
Pendidikan terkait dengan nilai-nilai, mendidik berarti “ memberikan, menanamkan, menumbuhkan’ nilai-nilai peserta didik. Kata memberikan dan menanamkan nilai, lebih menempatkan peserta didik dalam posisi positif, menerima, mendapatkan nilai-nilai. Kata menumbuhkan nilai memberikan peranan yang lebih aktif kepada peserta didik, peserta didik menumbuhkan, mengembangkan sendiri nilai-nilai pada dirinya, bagi dirinya, sehingga kata pendidik sebagai peserta didik yang aktif dan berdidik sebagai mendidik diri sendiri bisa saja digunakan, sebab hal itu bisa terjadi.
Hampir semua orang dikenai pendidikan dan melaksanakan pendidikan. Sebab pendidikan tidak pernah terpisah dengan kehidupan manusia. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga mereka juga akan mendidik anak-anaknya. Begitu pula di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa dididik oleh guru dan dosen. Pendidikn adalah khak milik dan alat manusia. Tidak ada makhluk lain yang memerlukan pendidikan.
Pendidik berfungsi membantu peserta didik dalam pengambangan dirinya, yaitu mengembangkan semua potensi, kecakapan, serta karakteristik pribadinya ke arah yang positif, baik bagi dirinya maupun lingkungannya. Pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan atau nilai-nilai atau melatihkan penilain. Pendidikan berfungsi mengembangkan apa yang secara potensial dan aktual telah dimiliki peserta didik, sebab peserta didik bukanlah gelas kosong yang harus diisi dari luar. Mereka telah memiliki sesuatu, sedikit atau banyak, telah berkembang (terktualisasi) atau sama sekali masih kuncup (potensial). Peranan pendidik adalah mengaktualkan yang masih kucup, dan mengembangkan lebih lanjut apa yang baru sedikit atau baru sebagian yang teraktualisasi, semaksimal mungkin sesuai dengan kondisi yang ada. Peserta didik yang memberikan kemampuan untuk tumbuh berkembang sendiri.
Dalam interaksi pendidikan peserta didik tidak harus selalu diberi atau dilatih, mereka dapat mencari, menemukan memecahkan masalah dan melatih dirinya sendiri. Kemampuan peserta didik tidak sama, sehingga ada yang betul-betul dapat dilepaskan untuk mencari, menemukan, dan mengembangkan sendiri, tetapi ada juga yang membutuhkan banyak bantuan dan bimbingan dari orang lain terutama pendidik.

B. Perumusan Makalah
1. Apa Yang Dimaksud dengan Konsep Pendidikan?
2. Bagaimana Tujuan dan Lingkungan Pendidikan?
3. Bagaimana Hubungan Pendididikan dengan Ilmu-ilmu Lainnya?
4. Bagaiman Tinjauan Psikologi tentang Pendidikan?

C. Tujuan Pembuatan Makalah
Mengetahui Tinjauan Psikologi tentang Pendidikan

D. Kegunaan Makalah
Setiap yang kita lakukan tentunya mengharapkan adnya manfaat bagi masyarakat. Begitu pun dalam pembuatan makalah ini, sata mengharapkan agar makalah ini memberikan manfaat bagi semua pihak, khususnya bagi mahasiswa STAI.
Makalah ini diharapkan dapat memberikan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa tentang Tinjauan Psikologi tentang Pendidikan.

E. Sistematika Penulisan
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Perumusan Masalah
C. Tujuan Pembuatan Makalah
D. Kegunaan Makalah
E. Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Pendidikan
B. Tujuan dan Lingkungan Pendidikan
C. Hubungan Psikologi dengan Ilmu-ilmu Lainnya
D. Tinjauan Psikologi tentang Pendidikan
BAB III PENUTUP
A. Simpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
















BAB II
TINJAUAN PSIKOLOGI TENTANG PENDIDIKAN
A. Konsep Pendidikan
Pendidikan yang pertama mengacu kepada pendidikan pada umumnya, yaitu pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat umum. Pendidikan seperti itu sudah ada semenjak manusia ada di muka bumi. Pada zaman purba, kebanyakan manusia memperlakukan anak-anaknya secara insting, suatu sifat pembawaan, demi kelangsungan hidup keturunannya. Insting merupakan pembawaan sejak lahir, suatu sifat yang tidak perlu dipelajari terlebih dahulu. Yang termasuk insting manusia antara lain sifat melindungi anak, rasa cinta terhadap anak, bayi menangis, kemampuan menyusu air susu ibu, dan merasakan kehangatan dengan ibu.
Mendidik secara insting segera diikuti oleh mendidik yang bersumber dari pikiran dan pengalamn manusia. Manusia mampu menciptakan cara-cara mendidik karena perkembangan pikirannya. Perlu ditekankan bahwa pendidikan itu bukanlah sekedar membuat peserta didik menjadi sopan, taat, jujur, hormat, setia, sosial, dan sebagainya. Tidak juga bermaksud hanya membuat mereka tahu ilmu pengethuan, tekhnologi, dan seni serta mampu mengembangkannya. Selain itu, pendidikan di Indonsia tertulis pada Undang-Undang Republik Indonesia (UURI) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta peraturan-peraturan pemerintah yang bertalian dengan pendidikan.
Dalam peraturan Republik Indonesia (PPRI) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 26 Ayat 1 disebutkan pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar :
1. Kecerdasan
2. Pengetahuan
3. Kepribadian
4. Akhlak manusia
5. Keterampilan untuk hidup sendiri
6. Mengikuti pendidikan lebih lanjut
Secara umum tujuan-tujuan pendidikan di Indonesia, baik tujuan-tujuan sekolah, perguruan tinggi, maupun tujuan nasional sudah mencangkup ketiga arah perkembngan manusia, seperti tertulis dalam teori-teori pendidikan, yaitu perkembangan :
1. Afektif
2. Kognisi
3. Psikomotor
Dengan demikian tujuan pendidikan Indonesia yang sudah komprehensif mencangkup afeksi, kognisi, dan psikomotor hendahlah dikembangkan secara berimbang, optimal, dan interagratif. Berimbang artinya perkembangan ketiga ranah tersebut di atas dilakukan dengan intensitas yang sama, yang proforsional, dan tidak berat sebelah. Optimal maksudnya adalah setiap ranah itu dilayani perkembngannya sesuai dengan besar potensialnya masig-masing. Dan integratif menunjukkan perkembangan ketiga ranah itu dikaitkan satu dengan yang lain sehingga menjadi kebulatan. Inilah yang dimksud dengan perkembangn individu seutuhnya. Proses perkembangan yang bebas sesuia dengan bakat dan kemampuan masing-masing, akan melahirkan manusia Indonesia seutuhnya yang beragam diwarnai oleh sila-sila pancasila.
B. Tujuan dan Lingkungan Pendidikan
1. Tujuan Pendidikan
Perbuatan mendidik diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu, yaitu tujuan pendidikan. Tujuan-tujuan ini bisa menyangkut kepentingan peserta didik sendiri, kepentingan masyarakat dan tuntutan lapangan pekerjaan dan ketiga-tiganya peserta didik masyarakat dan pekerjaan sekaligus. Prses pendidikan terarah pada peningkatan penguasaan pengetahuan, kemempuan, keterampilan, pengembangan sikap dan nilai-nilai dalam rangka pembentukan dan pengembangan diri peserta didik. Pengembangan diri ini dibutuhkan, untuk menghadapi tugas-tugas dalam kehidupannya sebagai peribadi, sebagai siswa, sebagai karyawan, professional maupun sebagai warga masyarakat.
Sasaran dan perbuatan pendidikan selalu normative, selalu terarah kepada yang baik. Perbuatan pendidikan tidak mungkin dan tidak pernah diarahkan kepada pencapaian tujuan-tujuan yang merugikan atau bertentangan dengan ketentuan peserta didik ataupun masyarakat. Perbuatan pendidikan selalu diarahkan kepada kemaslahatan dan kesejahteraan peserta didik dan masyarakat. Karena tujuannya positif maka proses pendidikannya juga harus positif, konstukti, nomatif. Tujuan yang normative tidak mungkin bisa dicapai degan perbuatan yang normative pula. Oleh karena itu kepada guru sebaia pendidik dituntuk harus selalu berbuat, berprilaku, berpenampiln sesuai dengan norma-norma. Sering terjadi perbuatan yang bagi petugas lain wajar tetpi bagi guru tidak wajar. Umpamanya menambah penghasilan dengan cara “ ngojeg”, menarik beca, bahkan berdagang pun adakalanya dianggap kurang wajar bagi guru.
2. Lingkungan Pendidikan
Proses pendidikan selalu berlangsung dalam suatu lingkungan, yaitu lingkungan pendidikan. Lingkungan ini mencangkup lingkungan fisik, sosial, intelektual, dan nilai-nilai. Lingkungan fisik terdiri atas lingkungan alam dan lingkungan alam manusia, yang merupakan tempat dan sekaligus memberikan dukungn dan kadang-kadang juga hambatan bagi berlangsungnya proses pendidikan. Proses pendidikan mendapatkan dukungan dari lingkungan fisik berupa sarana, prasarana serta fasilitas yang digunakan. Tersedianya sarana, pra sarana dan fasilitas fisik dalam jenis jumlah dan kulitas yang memadai, akan sangat mendukung berlangsungnya proses pendidikan yang epektif. Kekurangan sarana, prasarana dan fasilitas fisik, akan menghambat proses pendidikan, dan menghambat pencapaian hasil yang maksimal.
Lingkungan sosial merupakan lingkungan pergaulan antara manusia, pergaulan antara pendidik dengan peserta didik serta orang-orang lainnya yang terlibat dalam interaksi pendidikan. Interaksi pendidikan dipengaruhi oleh karakteristik pribadi dan corak pergaulan antar orang-orang yang terlibat dalam interaksi tersebut, baik pihak peserta didik (siswa) maupun para pendidik (guru) dan pihak lainnya. Setiap orang memiliki karakteristik pribadi masing-masing, sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok. Karakteristik ini meliputi karakteristik fisik seperti tinggi dan besar badan, nada suara, dan lain-lain..
Lingkungan intelektual merupakan kondisi dan iklim sekitar yang mendorong dan menunjang pengembangan kemampuan berpikir. Lingkungan ini mencangkup perangkap lunak seperti sistem dan program-program pengajaran, perangkat keras seperti media dan sumber belajar, serta aktivitas-aktivitas pengembangan dan penerapan maupun berpikir. Lingkungan lainnya adalah lingkungan nilai, yang merupakan tata kehidupan nilai, baik nilai kemasyarakatan, ekinomi, sosial, polotik, etika maupun nilai keagamaan yang hidup dan dianggap dalam suatu daerah atau kelompok tertentu. Lingkungan-lingkungan tersebut akan memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap proses dan hasil dari pendidikan.
Interaksi pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat serta lingkunga komunikatif. Keluarga sering kali disebut sebagi lingkungan pertama, sebab dalam lingkungan inilah pertama-tama anak mendapatkan pendidikan, bimbingan, asuhan, pembiaasan, dan latihan. Keluarga bukan hanya mendidik tempat anak dipelihara dan dibesarkan, tetapi juga tampat anak hidup dan didik pertama kali. Apa ang diperolehnya dalam kehidupan keluarga, akan menjadi dasar dan dikembangkan pada kehidupan-kehidupan selanjutnya. Keluarga merupakan masyarakat kecil sebagai protopik msyarakat luas. Semua aspek kehidupan masyarakat ada di dalam kehidupan keluarga, seperti aspek ekonomi, sosial. Pilitik, keamanan, kesehatan, agama, termasuk aspek pendidikan.
Sebagai pelanjut dari pendidakan dalam keluarga adalah pendidikan dalam lingkungan sekolah. Apa yang sudah disemai dan ditanamkan dalam keluaga, dilanjutkan pada lingkungan sekolah. Oleh karena itu sekolah sering disebut sebagai lingkungan kedua seelah keluarga. Pendidikan di sekolah lebih bersifat formal, (dalam keluarga bersifat informal), karena tidak seperti dalam lingkungan keluarga, di sekolah ada kurikulum sebagai rencana pendidikan dan pengajaran, ada guru-guru yang lebih profesional, ada sarana prasarana dan fasilitas pendidikan khusus sebagai pendukung proses pendidikan, serta ada pengelolaan pendidikan yang khusus pula.
Selain dalam kedua lingkungan di atas, yaitu lingkungan keluarga dan sekolah, peserta didik juga mendapat pengaruh dan pendidikan dalam lingkungan masyarakat, yang merupakan lingkungan ketiga, sebagai peserta didik ( anak, remaja atau pun orang dewasa) sebenarnya mereka telah berada, hidup dan berkembang dalam lingkungan masyarakat, tetapi setelah selesai masa pendidikan, maka mereka masuk ke masyarakat denga stastus yang lain, yang menunjukkan tingkat kedewasaan dan kemandirian yang lebih tinggi. Dengan status sebagai anak, remaja atau orang dewasa, peserta didik mengalami proses pendidikan dalam lingkungan masyarakat, apakah melalui kegiatan yang lebih formal, kurang formal, bahkan tidak formal.
Dalam berinteraksi dengan orang lain, dengan media masa, dengan pranata-pranata social yang ada, para peserta didik memperoleh pengetahun, nila-nilai serta keterampilan, yang sejenis atau berbeda dengan yang diberikan dalam keluga atau sekolah. Dalam masyarkat peserta didik menghadapi dan mempelajari hal-hal yang lebih nyata dan praktis, terutama yang bekaitan erat dengan problema-problema kehidupan. Di masyarakat para peserta didik juga dituntut dan berusaha menerapkan apa-apa yang telah mereka peroleh dari keluarga dan sekolah.
Pendidikan dalam lingkungan masyarakat lebih bersifat terbuka. Bahan yang dipelajari dapat mencangkup seluruh aspek kehidupan, dengan semua sumber belajar yang ada dalam lingkungannya. Dalam lingkungn masyarakat, metode pembelajarannya mencangkup semua bentuk interaksi dan komunikasi antar orang, baik secara langsung atau tidak lanhsung, menggunakan media cetak, atau pun elektronika. Para pendidik dalam lingkungan masyarakat adalah orang-orang dewasa, orang-orang yang mempunyai kelebihan yang dibutuhkan oleh peserta didik, tokoh masyarakat dan pra pimpinan formal maupun informal. Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional nimir 2 tahun 1989 dirumuskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik maupun kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan, bagi panamiah di masa yang akan datang.
C. Hubungan Psikologi dengan Ilmu-ilmu Lain
1. Psikologi dan Antropologi
Secara etimologis, antropoli berarti ilmu tentang manusia, antropos bertarti manusia, dan logis berarti ilmu. Antropologi sebagai ilmu yang masih muda (timbul antara perang dunia I dan II) mempunyai perhatian terhadap semua cabang pengetahuan yang berhubungan dengan manusia, yaitu manusia sebagai gejala biologis dan manusia sebagai makhluk sosial dan budaya. Antropolgi dapat dibagi ke dalam dua bagian: antropolgi fisik dan antropologi kebudayaan. Antropologi fisik berhubungan dengan cirri-ciri fisik dari berbagai manusi di dunia (mempelajari macam-macam ras, warna kulit, bentuk dan warna rambut, besar dan berat otak, cirri-ciri fisik lainnya, dan juga sifat-sifat intelektual dan emosi dari suatu kelompok manusia).
Antropogi kebudayaan berhubungan dengan berbagai kebudayaan, keperibadian yang tipikal yang terdapat dalam tiap kebudayaan, pengaruh-pengaruh kebudayaan terhadap kepribadian seseorang dan masyarakat. Apa yang diselidiki oleh Antropologi, sebenarnya juga banyak yang merupakan obyek-obyek dari psikologi. Psikologi menyelidiki tingkah laku manusia sebagai individu. Untuk mengetahui suatu individu tidak mungkin kita dapat melepaskan diri dari usaha mengetahui bagaimana kebudayaan masyarakat tempat individu itu hidup dan dibesarkan. Sebaliknya, untuk mengetahui suatu kebuyaan tertentu seringkali diperlukan untuk mengerti atau mengetahui bagaimana orang-orang dalam masyarakat itu mengalami dan merasakannya. Jadi, psikologi dan antropologi keduanya menyangkut daerah dan masalah-masalah tertentu yang bersamaan, keduanya saling mengisi (suplementer). Perbedaan yang prinsipil hanyalah terletak pada apa yang menjadi tekanannya. Psikologi menekankan pada individu, sedangkan anrtopolgi menekankan ada kelompok.
2. Psikologi dan Sosiologi
Sosiologi adalah suatu ilmu yang secara langsung berhubungan dengan tingkah laku manusia. Seperti halnya dengan Antropologi ia berhubungan dengan masalah manusia dalam kelompok; masalah hubungan sosil manusia. Hanya biasanya sosiologi itu menyangkut hubungan kelompok manusia yang lebih kecil, sedangkan Antropologi mengenai kelompok manusia yang luas atau besar. Para ahli sosiologi terutama memusatkan perhatiannya kepada tingkah laku laku kelompok. Ia mempelajari pengaruh-pengaruh kelompok terhadap individu-individu yang termasuk ke dalam kelompok itu. Masalah-masalah sosial yang diselidiki oleh sosiologi antara lain masalah-masalah kejahatan, kenakalan anak-anak, perceraian, perkembangan dan perubhan sifat-sifat keluarga, dan sebagainya. Juga mengenai pengaruh tekanan-tekanan sosial terhadap kepribadian, dan cara tekanan social itu mempengaruhi individu.
Melihat kepada apa yang menjadi obyek sosiologi seperti disebut di atas, tampak oleh kita bahwa ilmu (psikologi dan sosiologi) inipun mempunyai banyak persamaan. Perbedaannya: Psikologi menekankan kepada person individu, mengapa indvidu bertingkah laku seperti yang di lakukan, sedangkan sosiologi menekankan pada sifat-sifat dan tingkah laku kelompok. Yang dipelajari oleh sosiologi terutama ialah hubungan sosial manusia.


3. Psikologi dan Fisiologi
Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi-fungsi berbagai organ yang ada dalam tubuh manusia (seperti: fungsi perut dan hati, limpa dan empedu) dan berbagai macam sistem peredaran (seperti: peredaran makan, peredaran darah, pengeluaran sisa-sisa pembkaran, dan sebagainya). Juga mempelajari bagaimana organ-organ dan sistem peredaran itu berinteraksi satu sama lain. Apa yang diselidiki oleh psikologi ialah mengenai person individu itu sendiri. Individu sebagai kesatuan antara jasmni dan rohani. Jadi meskipun psikologi menyelidiki fungsi-fungsi jasmani, selalu dalam hubungan dengan fungsi-fungsi kegiatan rohani individu.
D. Tinjauan Psikologi tentang Pendidikan
Setiap guru yang mengajar, harus selalu membuat perencanaan, salah satu yang harus dilakukan adalah mampu membuat para peserta didik senang dengan suasana belajar, melalui metode yang menarik. Penggunaan metode belajar bertujuan membantu guru dalam menyampaikan materi agar mudah ditangkap oleh peserta didiknya. Hal ini dimaksudkan untuk memberi motivasi yang kuat dalam proses belajar anak.. Dalam hal pemberian motivasi kepada peserta didik, tentunya guru harus selalu memperhatikan kondisi psikologi peserta didiknya.
Dalam melaksaan proses belajar mengajar, para guru sering lupa melihat aspek psikologi peserta didik, khususnya tahap perkembangan kognitif peserta didik. Proses pembelajaran kadang tidak sukai dan ditangkap oleh peserta didik karena tidak sesuai dengan suasana yang peserta didik inginkan di usianya. Dan metode yang dipilih tidak berdasarkan perkembangan kognitif peserta didik. Semestinya seorang pengajar perlu mengetahui tingkat-tingkat perkembangan peserta didik supaya tujuan-tujuan yang telah ditetapkan bisa tercapai dengan baik.
Pembelajaran yang tidak memperhatikan kondisi perkembangan kognitif peserta didik cenderung hanya sekedar melaksanakan rutinitas belaka, tanpa ada tinjauan lebih jauh tentang makna dan hakikat belajar itu sendiri yang merupakan proses perkembangan potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Sehingga, dalam perkembangannya peserta didik kurang begitu optimal, karena guru tidak tahu akan tahapan yang ada dalam perkembangan anak. Kurang adanya pemahaman dari guru akan adanya perkembangan kognitif peserta didik menyebabkan guru tidak tahu harus bagaimana mengembangkan potensi yanga ada pada diri peserta didiknya menurut umur mereka. Sehingga wajar bila lulusan yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan kurang tepat menghadap akan tantangan yang ada. Karena proses pendidikan yang terjadi pada lembaga pendidikan hanya merupakan proses regulasi kelas belaka. Dalam artian naik kelas atau naik tingkat Madrasah bukan karena mereka telah menguasi apa yang seharusnya mereka kuasai diusianya, akan tetapi karena regulasinya atau perputaran mereka mengharuskan untuk naik kelas atau naik tingkat. Hanya mereka dianggap sudah menguasai materi lewat jalur tes, yang kebanyakan dari mereka berhasil karena hafal dari materi yang diajarkan.
Menurut Jean Piaget tahap perkembangan kognitif anak berbeda dari anak sampai dewasa. Perbedaan individual itu sangat luas atau banyak, akan tetapi beberapa perbedaan individu yang sangat penting diperhatian dalam proses pengajaran adalah perbedaan dasar kemampuan dasar atau bakat, minat, kecepatan dan cara belajar anak. Oleh karena itulah sangat tidak tepat apabila kita menerapkan kesamaan dalam hal metode dan materi dalam setiap pembelajaran. Seharusnya setiap pembelajarana harus disesuaikan dengan taraf perkemangan kognitif peserta didik.
















BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Pendidikan merupakan inetraksi antara pendidik dengan peserta didik, untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlansung dalam lungkungan pendidikan. Proses lingkungan pendidikan berlangsung dalam lingkungan pendidikan, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarkat. Orang tua, guru, para pimpinan dan orang dewasa lainnya dalam masyarakat, merupakan para pendidik, karena mereka minimal berperan memberi contoh atau teladan kepada anak-anak dan remaja.
Guru merupakan pendidik formal, karena latar pendidikan, kepercayaan masyarakat kepadanya serta pengangkatannya sebagai pendidik, sedang pendidik lainnya merupakan pendidik informal. Meskipun demikin peranan para pendidik informal ini tidak kalah pentingnya dengan pendidik formal. Pendidikan berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu pengajaran yang lebih terfokus pada pengembangan segi-segi intelektual, latihan pada segi-segi keterampilan dan bimbingan pada segi-segi efektif.
B. Saran
Kemajuan suatu negara dapat dilihat dari kualitas sumber daya manusia yang menempati negara tersebut. Dengan adanya berbagai kesempatan, yang diberikan oleh pemerintah, kita harus mempunyai semangat yang tinggi dalam memperoleh pendidikan, sehingga sumber daya manusia di Indonesia memiliki potensi dan pola pikir yang maju.
Indonesia bisa menjadi negara yang maju, jika kita warga negara Indonesia mampu meningkatkan kualitas, sehingga bisa bersaing dengan negara manapun dalam berbagai bidang. Mengubah pola pikir dan cara hidup merupakan salah satu upaya meningkatkan kualitas seseorang. Sebagai seorang muslim kita sudah diperintahkan untuk berpegang teguh pada Quran dan Sunnah Rasulullah sebagai landasan pola pikir dan cara hidup. Wallahu’alam.






DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Drs. H.Abu dan Nuruhbiyati. Dra. 1991. Ilmu Pendidikan. PT Rineka Cipta: Jakrta.
http://www.Andragogi.com/document/psikologi_pendidikan.htm.
http://Abbas85.wordpress.com/2009/01/11/pembelajaran_tinjauan_psikologi_kognitif/
http://Echhylizn.blogspot.com/2099/06/tinjauan_psikologi_psikologis_mengenai_pendidikan.html
Pidorta, Made. Prof. Dr. 2007. Landasan Kependidikan. PT Rineka Cipta: Jakarta.
Purwanto, M.Ngalim, Drs, MP. 1984. Psikologi Pendidikan. PT Remaja Rosda Karya: Bandung.
Sukmadinata, Prof. Dr. Nana Syaodih. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. PT Remja Rosdakarya : Bandung.

Kamis, 26 November 2009

kedzaliman pemerintah atas negeri ku Indonesia

Bismillahirrohmanirrohim

Kedzaliman pemerintah atas negeriku Indonesia

Astaghfirulloh, sungguh sulitnya menegakkan keadilan dan mengungkap kebenaran. Rakyat dihampiri dengan kabar dan suasana kehidupan yang rumit, itu semua dikarenakan adanya pemimpin yang berprerilaku tidak sesuai dengan sumpah mereka sendiri. Mereka asyik sendiri dengan kehidupan peribadinya yang justru akan menimbulkan kedzaliman bagi mereka sendiri terlebihnya menjadikan masyarakat bingung atas tindakan yang mereka lakukan.
Dikala ditegakkan hukum untuk mereka dan ditetapkan keadilan bagi yang tak bersalah, mereka justru menyalahi dan saling menuduh satu sama lain, yang paling membingungkannya mereka dengan sengaja bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak melakukan tindakan penyuapan sama sekali. Jika demikian, sumpah dengan nama Allah untuk waktu yang tak menentu ini sudah menjadi santapan. Mereka berpura-pura dengan tidak merasa berdosa atas sumpah palsu mereka.
Jika mereka menyadari dengan cepat, saya yakin mereka pasti menyesal dengan sikap mereka selama ini, yang tidak konsisten dengan aturan yang telah disepakati pemerintah. Bangkitlah para koruptor dari kesesatan dan raihlah kebahagiaan yang sebenarnya, kebahagiaan yang tidak ada setaranya dengan apapun. Saya berharap Allah mengampuni segala kekhilafan antum sekalian.
Ya Allah berilah mereka kesadaran, dan tunjukan kebenaran yang hakiki untuk para pemimpin yang senantiasa menjalankan kewajibannya dengan dasar keimanan. Sungguh pembelajaran bagi kita semua, bahwa setiap perbuatan pasti ada pertanggumg jawabannya, sehinnga apabila seseorang berani memainkan boal api maka mereka harus siap menghisap asap dari api itu sendiri.
Semoga maslah apapun yang ada pada negeri Indonesia ku ini dapat segera diselesaikan dengan cepat dan mereka diberi kemudahan untuk menentukan siapa yang bersalah dan pantas menerima akibat dari sikap mereka sendiri. Astaghfirulloh … ya Robb sadarkan mereka yang sedang berada dalam kesesatan dunia. Dan berikanlah balasan kebaikan atas segala pengorbanan mereka.

Rabu, 25 November 2009

hari kiamat

Bismillahirrohmanirrohim

Sekian banyak orang membicarakan masalah bencana alam, yang dihubungkan dengan adanya gempa, banjir, apalgi kecelakaan kapal yang baru saja merenggut banyak orang, bahkan yang paling ironisnya hanya beberapa orang saja yang selamat. Posisi seperti ini lah yang memikat hati sebagian manusia untuk mencari keuntungan.
Kita perhatikan salah satunya orang barat, tepatnya Negara Amerika, mereka dengan sengaja membuat rekayasa yang berupa film. Rasa penasaran pun menghantui banyak orangn bahkan orang-orang Islam pun banyak yang terhipnotis olae film tersebut.
Jika kita mengetahui ilmu mengenai hari kiamat, pasti kita dengan kritis berkomentar bahwa adanya hari kiamat tidak bisa ditebak dengan akal manusia, karena hal ini bersifat gaib. Sangat berbeda apabila yang di bahas mengenai sejarah para nabi atau para filosof yang telah meningaalkan sejarah kehidupan dengan mewariskan ilmunya kepada orang-orang di masa yang akan datang.
Adapun sebagian orang mengatakan bahwa film itu hanya untuk meyakinkan manusia untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelunya. Saya pun setuju dengan alas an tersebut, tetapi seharusnya tidak dengan menggambarkan kejadian kiamat itu sendiri. Masih banyak cara untuk menghasilkan generasi yang lebih baik, contohnya dengan diadakannya majlis taklim, meskipun dianggapnya sangat susah memikat perhatian banyak orang, tetapi saya yakin dengan berputarnya waktu, hal itu dapat diikuti dan diterima oleh masyarkat.
Semoga dengan bermuhasabah atas tingkah laku kita selama ini dapat menjadikan keimanan kita menjadi lebih kuat sehingga tidak mudah dikendalikan dengan alas-alasan yang tidak menentu.

Selasa, 24 November 2009

sitizainab_tips yang pertama_hari ke-1

Bismillahirrohmanirrohim

Saya beleum tahu benar dengan penggunaan internet, dihubungkan dengan adanya tugas pengiriman karangan melalui blog seperti ini saya sangat berat sekali untuk menuntaskannya. Mungkin dengan adanya tugas ini saya dapat belajar dengan baik.
Untungnya saya mempunyai sahabat yang mau membantu untuk memahami tugas ini, meskipun dengan proses yang lama. Ya Tuhan beri saya kemudahan untuk memahami pembelajaran ini. Terima kasih atas segala bantuannya.

Sabtu, 21 November 2009

Tugas TPKI, menganalisis makalah

Bismillahirohmanirrohim

Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam yang telah memberikan kesempatan kepada hambanya untuk merasakan nikmatnya ilmu sebagai penuntun jalan yang kehidupan. Salawat beserta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada insan Ilahi yakni Nabi yang mulia Muhammad SAW.

Setelah saya resapi dari hasil membaca makalah yang berjudul : “Gerakan Pemurnian Wahabi hasil karya Bapak Mulyawan S. Nugraha, saya akan mencoba memaparkan kekeliruan dalam makalah tersebut.

Dari segi kata, makalah ini menggunakan kata yang rancu sehingga meninggalkan kesalahan penafsiran bagi pembaca. Selain itu, terdapat pula kata-kata yang tidak baku yang jauh dari ejaan yang disempurnakan.

Berdasarkan isi, pembahasan tidak terlalu focus pada titik permasalahan, ada baiknya jika pembahasan tersebut menggunakan bahasa yang jelas dan baku. Adapun pemaparan makalah terlalu diulang-ulang dalam pembahasan berikutnya, sehingga isi pembahasan menjadi sempit.

Paragrap yang digunakan bersifat deduktif yang menjadikan kalimat mempunyai ciri tersendiri.

Wallahu’alam.